Pernah ngerasain nyeri di bagian luar siku saat lagi pegang gelas, buka botol, atau bahkan cuma salaman? Bisa jadi itu bukan pegal biasa, tapi tanda dari epikondilitis lateral. Kondisi ini cukup sering terjadi, terutama pada orang yang sering menggunakan tangan secara berulang.
Meskipun sering disebut sebagai tennis elbow, ternyata masalah ini nggak cuma dialami atlet tenis, lho. Banyak pekerja kantoran, tukang, bahkan ibu rumah tangga juga bisa kena. Yuk, kita bahas lebih dalam biar kamu makin paham soal epikondilitis lateral ini.
Apa Itu Epikondilitis Lateral?
Secara sederhana, epikondilitis lateral adalah kondisi ketika tendon di bagian luar siku mengalami iritasi, peradangan, atau bahkan kerusakan kecil. Tendon ini berfungsi menghubungkan otot ke tulang, khususnya otot yang membantu menggerakkan pergelangan tangan ke arah atas.
Di siku kita, ada tonjolan tulang di bagian luar yang disebut epikondilus lateral. Nah, di situlah tendon menempel. Kalau bagian ini terus-terusan dipakai tanpa istirahat yang cukup, bisa terjadi tekanan berlebih yang akhirnya memicu epikondilitis lateral.
Kenapa Bisa Terjadi?
Penyebab utama epikondilitis lateral biasanya karena penggunaan otot secara berlebihan. Gerakan yang sama dilakukan berulang-ulang, apalagi dengan beban tertentu, bisa bikin tendon “kelelahan”.
Contoh aktivitas yang sering memicu kondisi ini antara lain:
- Mengangkat barang berat berulang
- Memutar obeng atau alat kerja
- Mengetik terlalu lama tanpa jeda
- Olahraga seperti tenis, golf, atau badminton
Menariknya, sekitar 75% kasus epikondilitis lateral terjadi di tangan dominan. Jadi kalau kamu tangan kanan aktif, kemungkinan besar siku kanan yang kena.
Nggak Cuma Atlet, Siapa Saja Bisa Kena
Walaupun dikenal sebagai tennis elbow, epikondilitis lateral nggak eksklusif buat atlet. Justru banyak kasus terjadi pada orang biasa yang aktivitas hariannya melibatkan gerakan tangan terus-menerus.
Beberapa kelompok yang berisiko:
- Pekerja manual (tukang, teknisi, dll)
- Pekerja kantoran (terutama yang sering pakai mouse)
- Koki atau tukang daging
- Pelukis atau seniman
Jadi kalau kamu sering pakai tangan untuk aktivitas tertentu, penting banget buat aware terhadap epikondilitis lateral.
Gejala yang Sering Muncul
Biasanya epikondilitis lateral berkembang secara perlahan. Awalnya mungkin cuma terasa sedikit nggak nyaman, tapi lama-lama bisa makin sakit.
Gejala yang umum:
- Nyeri di bagian luar siku
- Rasa sakit saat menggenggam benda
- Nyeri saat memutar pergelangan tangan
- Sensasi nyeri menjalar ke lengan bawah
Contoh paling sering:
- Pegang gelas terasa sakit
- Buka tutup botol jadi susah
- Putar gagang pintu terasa nyeri
Kalau dibiarkan, epikondilitis lateral bisa bikin aktivitas sehari-hari jadi terganggu banget.
Bagaimana Cara Mendiagnosis?
Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Salah satunya dengan meminta pasien mengangkat tangan sambil diberi tahanan.
Kalau muncul nyeri di bagian luar siku, kemungkinan besar itu epikondilitis lateral.
Kadang-kadang, pemeriksaan tambahan seperti MRI atau rontgen dilakukan untuk memastikan kondisi tendon atau menyingkirkan kemungkinan lain.
Apakah Bisa Sembuh Sendiri?
Kabar baiknya, sekitar 80–85% kasus epikondilitis lateral bisa sembuh tanpa operasi. Dengan penanganan yang tepat, kondisi ini bisa membaik secara bertahap.
Namun, tetap butuh waktu dan konsistensi. Jangan berharap langsung sembuh dalam beberapa hari.
Cara Mengatasi Epikondilitis Lateral
- Istirahat Itu Penting
Langkah pertama yang paling penting adalah mengurangi aktivitas yang memicu nyeri. Kalau kamu tetap memaksakan, epikondilitis lateral bisa makin parah. Gunakan brace atau penyangga siku kalau perlu, supaya otot nggak terlalu banyak bergerak.
- Kompres Dingin
Kompres es bisa membantu mengurangi peradangan. Lakukan selama 20–30 menit setiap beberapa jam, terutama di awal munculnya nyeri akibat epikondilitis lateral.
- Obat Pereda Nyeri
Obat seperti ibuprofen bisa digunakan untuk sementara. Tapi ingat, ini hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyebab utama epikondilitis lateral.
- Fisioterapi
Fisioterapi jadi salah satu metode paling efektif untuk mengatasi epikondilitis lateral.
Biasanya melibatkan:
- Terapi ultrasound
- Latihan penguatan otot
- Peregangan tendon
Latihan ini penting untuk mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas lengan.
- Suntikan Steroid
Untuk kasus tertentu, dokter mungkin memberikan suntikan steroid. Ini bisa cepat meredakan nyeri akibat epikondilitis lateral, tapi efeknya biasanya jangka pendek.
- Operasi (Jika Diperlukan)
Kalau sudah 6–12 bulan nggak membaik, operasi bisa jadi pilihan terakhir. Prosedurnya biasanya melibatkan pembuangan jaringan tendon yang rusak akibat epikondilitis lateral.
Latihan yang Bisa Membantu
Setelah nyeri mulai berkurang, latihan sangat penting. Tujuannya untuk:
- Menguatkan otot lengan bawah
- Meningkatkan fleksibilitas
- Mencegah kambuhnya epikondilitis lateral
Latihan bisa dilakukan 3–5 kali sehari, tapi sebaiknya tetap di bawah pengawasan ahli.
Cara Mencegah Epikondilitis Lateral
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Berikut beberapa tips supaya kamu terhindar dari epikondilitis lateral:
- Jangan Memaksakan Diri
Kalau sudah mulai terasa nyeri, segera istirahat. Jangan tunggu sampai parah.
- Perhatikan Teknik
Baik saat olahraga atau kerja, pastikan posisi dan teknik kamu benar. Teknik yang salah bisa memicu epikondilitis lateral.
- Pemanasan Dulu
Sebelum aktivitas berat, lakukan peregangan agar otot lebih siap.
- Gunakan Alat yang Tepat
Misalnya raket yang sesuai ukuran atau alat kerja ergonomis untuk mengurangi risiko epikondilitis lateral.
- Perkuat Otot
Latihan rutin bisa membantu otot lebih kuat dan tahan terhadap tekanan.
Kesimpulan
Epikondilitis lateral adalah kondisi yang cukup umum tapi sering dianggap sepele. Padahal kalau tidak ditangani dengan baik, bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kunci utama mengatasi masalah ini adalah:
- Istirahat yang cukup
- Menghindari aktivitas pemicu
- Melakukan terapi dan latihan secara rutin
Dengan penanganan yang tepat, epikondilitis lateral bisa sembuh tanpa operasi. Jadi kalau kamu mulai merasakan gejala, jangan diabaikan ya.
Baca artikel lainnya

